Selasa, 16 September 2014

Korban Modus Pembegalan Part 3


Satu lagi kesalahan Aldo, dia menjilat tai ditangannya itu. Acara ngabuburit pun sedikit terlupakan. Maka Reza dan yang lainnya bergegas menyalakan motor dan menuju Danau Green Cove. Tapi di tengah jalan, hujan turun dengan deras dan membasahkan baju Reza. Mereka semua mencari tempat berteduh yang tepat, kebetulan di depan ada sebuah masjid yang sepi. Mereka semua sedikit bingung karena masjid ini sepi sekali padahal ini masuk waktu solat asar. Terus ketika melihat jam, mereka semua tertawa karena sekarang sudah jam lima.

Hujan pun mereda, tiba-tiba ada tiga orang bapak-bapak menghampiri mereka. Reza mulai merasa takut melihat tampang tiga bapak-bapak itu.

"Woy, lu yang gebukin ade-adean gua ya?" Bapak-bapak itu ngotot sambil menunjuk Aldo

"Santai dulu dong, Pak". Reza membalas omongan bapak-bapak itu

"Gabisa gua. Ade-adean gua lagi enak-enak maen, pulang-pulang pada bonyok", bapak-bapak itu malah ngotot kepada Reza.

Reza melongo dan bedoa semoga dia pulang dengan selamat.

"Yaudah, Pak. Mana ade-adean bapak?" Tanya Rapit santai.

"Ade-adean gua dirumah sakit. Lu kan yang gebukin?"

"Dih, enak bae dah. Orang kita abis nganter temen ke stasiun."

"Gak percaya gua. Ntar ngikut lu ya!! Awas lu kabur."

"Iya, kagak takut gue. Orang gue kaga salah kok!!" sahut Rapit.

"Ayu ikutin gua sama temen gua"bapak-bapak itu makin nyolot.

"Ayu.. berisik banget lu" kata Rapit.

Reza mulai curiga kepada bapak-bapak tadi karena dari cara ngomongnya saja sudah ngeselin dan nyolot.  Hilmi juga merasakan hal yang sama, tapi Rapit malah mau ikut bersama bapak-bapak itu walaupun belum tahu mau kemana. Rapit menyalakan motornya, dia berboncengan dengan Hilmi dan Aldo berboncengan dengan Reza. Diperjalanan pun Aldo memiliki perasaan kurang enak, dan Reza berusaha menyembunyikan perasaan yang sama dengan Aldo

"Perasaan gua jadi gak enak gini, Za."

"Yaelah, udah sih biarin aja. Lagi pula kita gak salah kan? Kenapa mesti takut"

"Iyah, tapi kan kita gak tahu apa mau tuh orang buat ngajak kita ikut"

Reza berpikir sejenak, ~tumben-tumbenan nih bocah bener~.

"Udahlah, kita juga kan harus jaga solidaritas. Jadi suka duka harus dialami bersama. Gak mungkin juga kan, kita ninggal Rapit dan Hilmi bersama bapak-bapak itu"

Aldo malah diem. Mungkin otaknya belum nyampe.

Bukan hanya Reza dan Aldo yang curiga. Rapit dan Hilmi pun mengalami hal yang sama. Rapit sempat ingin kabur dan memberhentikan motornya, tetapi bapak-bapak itu menunggu Rapit. Memang sangat ngeselin tuh orang, sampai-sampai ia menunggu Rapit yang bermaksud ingin kabur. Sama halnya dengan Reza, Hilmi di belakang Rapit cuma bisa bisikin Rapit agar dia hati-hati.

Tibalah mereka semua di tempat yang sangat mengerikan, tempatnya itu sepi dan banyak sekali rumah kosong. Reza menjadi semakin takut, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena gak berani. Kemudian, datang beberapa teman bapak-bapak itu dengan membawa celurit yang sangat tajam.

"Lho, lho mau ngapain bang bawa celurit segala."Reza panik dan tanpa disengaja mengeluarkan suara.

"Lu mau tau nih celurit buat apa?,"kata bapak-bapak yang membawa celurit sambil menatap tajam Reza,"Emang anjing banget lu,"

"Ko anjing sih, pak? Anjing mah binatang bukan manusia."Sahut Rapit yang sedang memegangi hape.

"Serahin gak hape lu semua!! Kalo kaga, gua matiin lu"

Ancaman itu sangatlah mengerikan, Reza ketakutan dan bingung harus berbuat apa. Sebagai ketua genk yang baik, dialah yang harus berkorban demi teman-temannya. Reza turun dari motor Aldo dan mengambil batu besar yang berada didekat Rapit.Setelah memegang batu itu, Reza mengarahkannya ke wajah bapak-bapak yang membawa celurit, sialnya dia lupa bahwa di belakang dia ada satu bapak-bapak yang sedang menjaga agar tidak bisa kabur.

Bapak-bapak itu mengambil batu yang dipegang Reza dan menggenggamnya. Hal itu hanya menambah kesal bapak-bapak yang membawa celurit, hingga akhirnya diapun menaruh celuritnya di leher Aldo. Tadinya Reza duduk di motor dan dibelakang Aldo, untung saja Reza turun untuk mengambil batu, jadinya dia tidak merasakan kengerian yang luar biasa.

Walaupun Aldo orangnya ngeselin, Reza, Rapit, dan Hilmi tidak tega melihatnya. Apalagi melihat Aldo menangis dan berdoa di dalem hati. Tetap saja bapak-bapak itu mengancam

"Woy bangs** serahin kaga hape lu semua!! Kalo kaga gua potong ni leher temen lu"

Aldo baca dua kalimat syahadat. Karena dia takut lupa membacanya jikalau lehernya sudah dipotong.

"Do. Lo gak boleh gitu, jangan terlalu pasrah, Do."Kata Reza menitikkan air mata karena melihat Aldo membaca syahadat.

"Diem lu!! Serahin aja hape lu sini, "

"Eh sue, kok jadi gini. Katanya ade-adean lu digebukin, mana ade-adean lu nya?? Kita mau ngabuburif malah gak jadi gara-gara ini"

"Ah banyak bacot lu". Bapak-bapak yang menggenggam batu besar, melemparnya ke kepala Hilmi.

"Adawww,"Hilmi kesakitan dan kepalanya mengeluarkan darah yang begitu banyak.

Reza dan Rapit yang berada dekat Hilmi cuma bisa melihatnya dan sama sekali tidak dapat menolongnya, dengan sebab ancaman pukul jika saja Reza dan Rapit menolong Hilmi.

Merasa gak tega dengan Hilmi. Reza dan Rapit memberikan hape-nya kepada bapak-bapak yang mengancamnya. Tetep aja bapak-bapak itu ngotot

"Eh, serahin hape lu sini!!" Bapak-bapak yang menaruh celurit di depan Aldo, meminta kepada Aldo untuk memberikan hape-nya.

"Ni-Nih bang,"tangan Aldo bergetar dan dia mengasikan hapenya.

"Nah bagus gitu, satu lagi mana sinih."

"Siapa lagi sih, Pak?" Reza bertanya sambil memasang muka melas.

"Lah ono temen lu yang palanya bocor."

Secepatnya Hilmi memberikan hape-nya agar nyawanya terselamatkan. Semua bapak-bapak itu, tertawa dengan keras, dan meninggalkan Reza, Rapit, Hilmi dan Aldo dengan begitu saja.

Reza menahan kesedihannya, dan berusaha menenangkan teman-temannya. Mereka berempat menjadi korban modus pembegalan, yang saat ini sering terjadi di kota-kota besar.
Tidak lama, Aldo mengajak pulang dan merahasiakan kejadian ini kepada orang tua masing-masing. Hilmi setuju, Rapit setuju, Reza... setuju. Karena kemungkinan besar jika mereka memberitahukan masalah ini ke orang tua, mereka pasti diomelin dan tidak diijinkan main membawa motor lagi.

Sesampainya di rumah, Reza masih melihat mamahnya mengangkat lemari, dan Reza menggodek-godek, tanda melihat yang tidak wajar.

"Mah, kok mamah masih latihan ngangkat lemari sih?"

"Eh ada Reza, ini mamah bukan lagi latihan ngangkat lemari, tapi mamah lagi ketiban lemari. Bantuin dong,"

"Jiahaha, lagian belagu pake segala latihan ngangkat lemari," Reza tertawa seakan, tidak terjadi apa-apa.

Begitulah seorang pemimpin. Disaat susah maupun senang, tidak perlu orang lain tau apa yang kita rasakan. Termasuk orang tua sendiri. ==>>

7 komentar:

  1. Wkwkwk.. akhirnya keluar juga lanjutannya :x.. masih ada lgi gk nhe?

    BalasHapus
  2. Masih ada... tunggu aja bro xD

    BalasHapus
  3. Aduh, jadi gx sbar :D :D hehe

    BalasHapus
  4. Lucu dan gokil nih ceritanya lama2, tapi saran saya sih tetap ya perhatikan typonya dan di revisi kembali. Thanks good luck!

    BalasHapus
  5. Nah klo part ini, terlihat natural. Gak ada unsur absurd. Tapi kocak sekaligus seru abis Bro

    (Y)

    BalasHapus
  6. Part ini lumayan bisa di mengerti di banding part-part sebelumnya, meskipun gue belum nemu diksi dewanya hehehe

    Tapi good job deh, seenggaknya tulisan lo ada perkembangan.

    Ngomong-ngomong ade-adean itu apanya cabe-cabean? Hehehe

    Udah nebak sih pas preman-preman itu nyolot, ini pasti lagi di palak. Secara itu modusnya lagi rame-ramenya sekarang hehehe

    Dan setelah bertanya-tanya apa itu pembegalan, akhirnya terjawab sudah di part ini. Pembegalan tuh bahasa mana sih? Hahaha

    BalasHapus

Arsip Blog